Pendahuluan
Penyakit kuning atau hiperbilirubinemia indirek tak terkonjugasi dialami oleh lebih dari 60% neonatus aterm dan 80% neonatus preterm. Penanganan tertunda berisiko memicu deposisi bilirubin di ganglia basal otak (kernikterus). Fototerapi berbasis Light Emitting Diode (LED) menawarkan spektrum radiasi sempit yang paling optimal diserap bilirubin tanpa memancarkan panas inframerah berlebih ke boks bayi.Pengujian Laboratorium Spektral dan Klinis
Intensitas iradiansi spektral diukur menggunakan radiometer presisi tinggi (Ohmeda BiliBlanket Meter II) pada jarak kerja 35 cm di 9 titik grid area penyinaran. Uji klinis melibatkan 64 neonatus cukup bulan dengan kadar Total Serum Bilirubin (TSB) antara 14 - 18 mg/dL yang dibagi secara acak ke dalam kelompok fototerapi LED intensitas tinggi (intensitas 38 µW/cm²/nm) dan kelompok tabung fluoresen fluorescent blue (intensitas 18 µW/cm²/nm).Hasil
1. Laju penurunan bilirubin rata-rata pada kelompok LED tercatat 0,38 ± 0,08 mg/dL per jam dalam 12 jam pertama, jauh lebih cepat dibandingkan kelompok fluoresen konvensional (0,21 ± 0,06 mg/dL per jam; p < 0,001).2. Durasi paparan fototerapi yang dibutuhkan hingga kadar TSB aman turun sebesar 36,4% (rata-rata 18,2 jam vs 28,6 jam).
3. Suhu permukaan inkubator pada modalitas LED sangat stabil dengan kenaikan suhu lingkungan < 0,3°C, mencegah dehidrasi insensibel dan ruam kulit panas pada bayi.
4. Degradasi intensitas emisi LED setelah uji ketahanan 2000 jam operasi hanya berkurang 2,1%.