Latar Belakang
Pulse oximeter menjadi instrumen skrining tanda vital non-invasif yang paling masif digunakan di ruang gawat darurat, perawatan intensif, dan isolasi mandiri. Namun pembacaan saturasi oksigen sering mengalami distorsi signifikan pada pasien hipotermia, syok hipovolemik, atau vasokonstriksi perifer yang menyebabkan nilai perfusi indeks (PI) turun di bawah 0,4%.Prosedur Uji Kalibrasi Metrologi
Penelitian dilakukan dengan menautkan 10 model fingertip pulse oximeter yang beredar di pasar domestik pada SpO2 Simulator Fluke Index 2. Parameter pengujian disimulasikan pada rentang:- Saturasi oksigen: 70% hingga 100%
- Denyut nadi: 30 hingga 240 bpm
- Indeks Perfusi (PI): diatur bertahap mulai dari 10%, 2%, 0,5%, hingga 0,1%
- Simulasi artefak gerak (motion artifact) tremor frekuensi 2 Hz
Hasil dan Temuan
Pada kondisi perfusi normal (PI > 2%), seluruh merek pulse oximeter memiliki akar rata-rata kesalahan kuadrat (Root Mean Square Error / ARMS) sebesar ±1,4%, memenuhi standar ISO 80601-2-61 (ARMS ≤ 3%).Namun pada perfusi rendah ekstrem (PI = 0,2%):
- Tiga perangkat dengan sertifikasi medis kelas IIa tetap mampu menghasilkan pembacaan stabil dengan ARMS ±2,3%.
- Enam perangkat non-medis tanpa algoritma penapis gerak mengalami deviasi galat pembacaan hingga 8,7% atau gagal mengunci sinyal pulsasi sama sekali.
- Uji ini menegaskan perlunya standardisasi berkala dan edukasi tenaga kesehatan agar tidak mengandalkan oximeter non-terkalibrasi pada pasien kondisi kritis hemodinamik.