Latar Belakang
Pemanfaatan tomografi terkomputasi (CT-Scan) meningkat pesat seiring bertambahnya indikasi klinis onkologi dan trauma abdomen. Namun peningkatan frekuensi pemeriksaan berbanding lurus dengan akumulasi dosis radiasi pengion yang diterima populasi, menuntut audit berkala prinsip optimisasi ALARA (As Low As Reasonably Achievable).Metodologi dan Metrik Dosis
Penelitian prospektif mencakup 350 pasien dewasa dengan indeks massa tubuh (IMT) normal hingga obesitas yang menjalani CT abdomen rutin dengan kontras intravena fase portal. Metrik radiasi yang dicatat dari Radiation Dose Structured Report (RDSR) sistem CT meliputi Computed Tomography Dose Index volume (CTDIvol dalam mGy) dan Dose-Length Product (DLP dalam mGy.cm). Evaluasi kualitas citra dilakukan secara objektif melalui pengukuran signal-to-noise ratio (SNR) pada parenkim hepar dan subjektif oleh tim fisikawan medik dan radiolog.Hasil Analisis Data
- Nilai kuartil ketiga (persentil ke-75 / penetapan local DRL) untuk CTDIvol pada protokol abdomen fase tunggal adalah 13,4 mGy, sedangkan untuk DLP adalah 642 mGy.cm.- Angka ini 16,2% lebih rendah daripada nilai acuan DRL nasional BAPETEN tahun 2020 berkat optimalisasi algoritma rekonstruksi iteratif (Iterative Reconstruction Level 3).
- Penerapan voltase tabung adaptif 100 kVp pada pasien berbobot < 65 kg mampu mereduksi dosis radiasi sebesar 28,5% tanpa menurunkan ketajaman kontras lesi fokal hepar.